Hadapi Kemarau, Sinergi Lintas Sektor Amankan Ketahanan Pangan Nasional

Jakarta – Pemerintah memperkuat sinergi lintas sektor guna memastikan ketahanan pangan nasional tetap terjaga menghadapi potensi musim kemarau 2026. Langkah strategis tersebut dilakukan melalui koordinasi antarkementerian/lembaga dalam memperkuat cadangan pangan, menjaga produktivitas pertanian, serta mengantisipasi dampak perubahan iklim di berbagai wilayah Indonesia.

Pemerintah memastikan produksi pangan nasional tetap berada dalam kondisi aman didukung stok beras nasional yang kuat dan langkah mitigasi yang terkoordinasi. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan kesiapan pemerintah menghadapi dinamika iklim saat ini berada dalam kondisi terkendali.

“Kalau dampak ini, ada El Nino, itu nggak masalah. Kenapa nggak masalah? Karena stok kita sudah 5 juta ton, tertinggi selama Republik ini merdeka,” kata Amran.

Penguatan ketahanan pangan nasional tersebut didukung kolaborasi lintas sektor yang melibatkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Kementerian Pekerjaan Umum melalui Ditjen Sumber Daya Air, serta Kementerian Pertanian melalui Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian dan Ditjen Lahan dan Irigasi Pertanian. Sinergi tersebut difokuskan pada penguatan sistem irigasi, optimalisasi sumber air, percepatan tanam, serta penyediaan sarana produksi pertanian guna menjaga stabilitas hasil panen selama musim kemarau berlangsung.

Sebagai bentuk kesiapan menghadapi musim kering, Kementerian Pertanian mengalokasikan anggaran sekitar Rp5 triliun untuk mendukung program irigasi dan penyediaan benih unggul. Lebih dari Rp3 triliun di antaranya difokuskan untuk penguatan infrastruktur irigasi, termasuk pompanisasi dan optimalisasi sumber air di wilayah rawan kekeringan.

Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Dr. Ardhasena Sopaheluwakan, menegaskan bahwa secara umum kondisi iklim Indonesia masih mendukung sektor pertanian meskipun kewaspadaan terhadap potensi kekeringan tetap diperlukan.

“Kondisi iklim Indonesia sebenarnya sangat baik untuk pertanian. Kekeringan tidak terjadi setiap saat dan kita sudah cukup familiar dalam menghadapinya,” ujarnya.

BMKG memproyeksikan musim kemarau tahun 2026 akan datang lebih awal dengan puncak kekeringan diperkirakan berlangsung pada Juni hingga September. Potensi El Nino tahun ini diperkirakan berada pada kategori lemah hingga moderat dengan probabilitas sekitar 50–60 persen.

“Kecenderungannya, semakin kuat El Nino maka Indonesia akan semakin kering. Namun kondisi ini tidak terjadi secara serentak di seluruh wilayah,” katanya.

More From Author

Pemerintah Optimalkan MBG 3B, Stunting Ditekan Lewat Intervensi Gizi

Sinergi Lintas Sektor sebagai Fondasi Ketahanan Pangan Berkelanjutan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *