Prabowo Jadikan Riset sebagai Mesin Program Prioritas Nasional

Oleh: Rendra Wijaya

Kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam, tetapi juga oleh kemampuan mengembangkan ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi. Karena itu, langkah Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan riset sebagai mesin penggerak berbagai program prioritas nasional menjadi strategi penting dalam memperkuat daya saing Indonesia. Melalui penguatan pendidikan dan investasi pada penelitian, pemerintah ingin menciptakan generasi unggul yang mampu menghasilkan berbagai inovasi untuk mendukung pembangunan nasional.

Presiden menegaskan bahwa kualitas pendidikan merupakan fondasi utama untuk melahirkan inovasi, penemuan, dan teknologi yang akan menentukan posisi Indonesia di tengah persaingan global. Menurutnya, negara yang memiliki pendidikan berkualitas akan lebih mudah menciptakan riset dan paten yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Presiden juga menyoroti hasil Programme for International Student Assessment (PISA) yang menunjukkan capaian Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara lain. Namun, kondisi tersebut dipandang sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki sistem pendidikan nasional. Pemerintah menilai tantangan pendidikan di Indonesia jauh lebih kompleks karena harus melayani sekitar 388 ribu sekolah yang tersebar di wilayah pegunungan, pulau terluar, dan daerah terpencil. Kondisi geografis itu menuntut upaya besar agar seluruh anak Indonesia memperoleh akses pendidikan yang setara dan berkualitas.

Menurut Presiden Prabowo, kemajuan riset tidak dapat dipisahkan dari kualitas pendidikan. Oleh sebab itu, pemerintah menjadikan investasi di bidang pendidikan sebagai investasi jangka panjang yang akan melahirkan generasi inovatif dan mampu menghasilkan berbagai penemuan yang mendukung kemajuan bangsa. Pemerintah juga menyiapkan pembangunan sekolah unggulan dengan kurikulum International Baccalaureate (IB) agar lulusan Indonesia mampu bersaing di tingkat internasional serta membuka peluang kerja sama antara perguruan tinggi nasional dengan universitas terbaik dunia.

Presiden mengakui bahwa investasi Indonesia pada sektor research and development masih belum optimal. Karena itu, pemerintah berkomitmen meningkatkan dukungan terhadap kegiatan penelitian dan pengembangan secara bertahap. Untuk memenuhi kebutuhan pendanaan, pemerintah akan memperkuat efisiensi pengelolaan keuangan negara melalui penghematan belanja yang tidak produktif serta pemberantasan korupsi, fraud, under-invoicing, dan berbagai bentuk penyimpangan lainnya sehingga anggaran dapat dialihkan bagi sektor pendidikan, riset, dan inovasi.

Selama satu tahun pemerintahan, kebijakan efisiensi anggaran yang diiringi penguatan tata kelola telah menjadi salah satu fondasi dalam mendukung berbagai program prioritas nasional. Pemerintah juga terus mempercepat pembangunan infrastruktur, memperkuat layanan kesehatan, meningkatkan ketahanan pangan, memperluas hilirisasi industri, mempercepat transisi energi, dan menjalankan Program Makan Bergizi Gratis sebagai upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak dini.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa pemerintah menempatkan hilirisasi hasil riset sebagai prioritas agar inovasi tidak berhenti pada tahap penelitian, tetapi dapat dimanfaatkan masyarakat dan memberikan nilai tambah bagi perekonomian. Pemerintah juga mendorong kolaborasi antara BRIN, perguruan tinggi, industri, badan usaha milik negara, serta pemerintah daerah agar hasil penelitian lebih cepat diterapkan dalam berbagai sektor pembangunan menuju Indonesia Emas 2045.

Sementara itu, Kepala BRIN Arif Satria mengatakan lembaganya tengah memfokuskan pengembangan teknologi maju yang diproyeksikan menjadi penggerak daya saing ekonomi Indonesia dalam dua hingga tiga dekade mendatang. Menurutnya, berbagai negara dengan tingkat inovasi tinggi umumnya memiliki pendapatan per kapita yang lebih besar. Pada 2025, negara-negara seperti Swiss, Swedia, Amerika Serikat, dan Korea Selatan masih mendominasi peringkat Global Innovation Index karena konsisten berinvestasi pada ilmu pengetahuan dan teknologi.

Arif Satria menegaskan bahwa riset dan inovasi merupakan lokomotif pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Oleh sebab itu, BRIN memprioritaskan pengembangan teknologi semikonduktor agar Indonesia mampu mengurangi ketergantungan terhadap chip impor. Selain itu, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga menjadi fokus utama untuk meningkatkan produktivitas nasional di berbagai sektor.

Penerapan AI telah dilakukan BRIN melalui pengembangan Food Guard yang mendukung Program Makan Bergizi Gratis. Teknologi tersebut dipasang pada wadah makanan untuk menjaga kualitas selama distribusi. Selain itu, BRIN juga mengembangkan inovasi pada seluruh rantai ekosistem MBG, mulai dari penyediaan bahan pangan, mesin pengolahan, sistem pengemasan, deteksi halal, distribusi, hingga sistem pemantauan berbasis AI. Langkah tersebut menunjukkan bahwa hasil penelitian telah memberikan kontribusi nyata terhadap pelaksanaan program prioritas pemerintah.

Selain semikonduktor dan AI, BRIN juga memprioritaskan pengembangan teknologi genomik untuk mendukung kemandirian benih, obat-obatan, dan bioindustri nasional. Pengembangan teknologi kuantum turut dipersiapkan sebagai fondasi keamanan digital dan komputasi masa depan. Di sisi lain, penelitian pada bidang teknologi nuklir dan antariksa terus diperkuat guna mendukung ketahanan energi, kesehatan, pangan, serta pengawasan wilayah Indonesia.

Khusus pada bidang nuklir, Arif Satria menjelaskan bahwa BRIN sedang membangun ekosistem teknologi secara menyeluruh, mulai dari penambangan dan pemurnian uranium serta torium, fabrikasi bahan bakar, teknologi reaktor, sistem keselamatan, metrologi radiasi, hingga pengelolaan limbah. Persiapan tersebut dilakukan agar ketika Indonesia memasuki era Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir, bangsa ini telah memiliki kemampuan teknologi sendiri dan tidak bergantung sepenuhnya pada negara lain.

Pada akhirnya, kebijakan Presiden Prabowo yang menjadikan riset sebagai mesin penggerak program prioritas nasional menunjukkan bahwa pembangunan Indonesia diarahkan tidak hanya untuk menjawab kebutuhan saat ini, tetapi juga membangun fondasi jangka panjang. Dukungan terhadap pendidikan, penguatan riset, hilirisasi inovasi, serta kolaborasi antara pemerintah, BRIN, perguruan tinggi, industri, dan masyarakat diharapkan mampu mempercepat terwujudnya Indonesia yang lebih maju, berdaya saing, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045.

*) Pengamat Pembangunan Nasional

More From Author

Presiden Perkuat Hilirisasi Riset untuk Energi, Pangan, dan Ekonomi

Riset Strategis: Jalan Prabowo Membangun Kemandirian Teknologi Nasional

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *