Stok Energi Aman, Indonesia Dinilai Tangguh Hadapi Ketidakpastian Global

Jakarta – Di tengah eskalasi konflik global yang memicu ketidakpastian ekonomi dan tekanan terhadap sektor energi, Indonesia dinilai berada dalam posisi relatif aman dan tangguh. Pemerintah disebut telah mengantisipasi berbagai skenario krisis, baik dari sisi harga, pasokan, maupun durasi konflik, sehingga stabilitas energi nasional tetap terjaga.

Tenaga Ahli Utama Bakom RI, Fithra Faisal, mengungkapkan bahwa pemerintah tidak bersikap reaktif, melainkan telah melakukan langkah antisipatif jauh sebelum gejolak global terjadi. Ia menekankan bahwa kewaspadaan terhadap potensi krisis sudah disampaikan sejak awal oleh Presiden, termasuk dalam berbagai forum strategis.

“Pemerintah sudah menyiapkan beberapa skenario, baik skenario terbaik maupun terburuk. Bahkan sejak tahun lalu Presiden sudah menyampaikan kewaspadaan bahwa kita hidup dalam periode yang sangat berbahaya. Jadi kondisi saat ini bukan sesuatu yang mengejutkan, melainkan sudah diantisipasi sejak awal,” ujar Fithra.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa desain pembangunan nasional memang diarahkan untuk menghadapi berbagai kemungkinan terburuk. Hal tersebut tercermin dalam penguatan ketahanan ekonomi yang terintegrasi dengan ketahanan energi, pangan, dan air sebagai satu kesatuan strategi nasional.

“Dalam konteks pembangunan, pemerintah sudah mendesain kebijakan makro dan anggaran untuk menghadapi situasi terburuk. Ketahanan energi menjadi satu kesatuan dengan ketahanan pangan dan air, yang saat ini juga menjadi doktrin global dalam menjaga stabilitas nasional,” jelasnya.

Dari sisi ketahanan energi, Indonesia dinilai memiliki tingkat kerentanan yang rendah dan kapasitas penyangga yang kuat. Diversifikasi sumber energi menjadi faktor penting yang membuat Indonesia tidak bergantung pada satu kawasan tertentu, sehingga mampu meredam dampak konflik geopolitik global.

“Indonesia masuk kategori low exposure dan strong buffer. Artinya kita memiliki diversifikasi sumber energi, tidak hanya bergantung pada satu wilayah seperti Timur Tengah. Bahkan dalam bauran energi, kita sudah mengembangkan biofuel dan mendorong konversi energi seperti B40 menuju B50 untuk memperkuat kemandirian,” ungkap Fithra.

Sementara itu, dari sisi pasokan, pemerintah juga memastikan ketersediaan energi tetap aman melalui sistem cadangan dan pengisian ulang yang berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa kapasitas cadangan nasional bukan satu-satunya indikator, karena terdapat mekanisme suplai berkelanjutan dari mitra regional.

“Cadangan nasional kita sekitar 25 hari, tetapi ini bukan berarti akan habis begitu saja. Ada sistem pengisian ulang yang terus berjalan, termasuk dukungan pasokan dari negara mitra seperti Singapura dan Malaysia yang menjadi bagian dari sistem perdagangan energi kita,” tambahnya.

Dengan kombinasi strategi antisipatif, diversifikasi energi, serta sistem pasokan yang adaptif, Indonesia dinilai mampu menjaga stabilitas energi di tengah ketidakpastian global. Kendati demikian, kewaspadaan tetap diperlukan agar ketahanan yang telah dibangun dapat terus dipertahankan di tengah dinamika geopolitik yang terus berkembang.

More From Author

Relaksasi SLIK Permudah Akses Rumah Subsidi bagi Masyarakat

Di Tengah Gejolak Dunia, Stok Energi Indonesia Tetap Aman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *